[Pos baru] Ajaib, Leukemia Akut Sembuh Berkat Madu Bornoe
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Daniel GK menulis:" SUKSESPRO.COM –Ajaib! Itulah ungkapan yang sering terlontar ketika mengonsumsi madu hutan liar Borneo87. Dan salah satu yang mengalami kisah ajaib itu adalah keluarga Sardjono (70). Warga RT 13 RW 19 Dusun Tawarsari, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari,"
SUKSESPRO.COM –Ajaib! Itulah ungkapan yang sering terlontar ketika mengonsumsi madu hutan liar Borneo87. Dan salah satu yang mengalami kisah ajaib itu adalah keluarga Sardjono (70).
Warga RT 13 RW 19 Dusun Tawarsari, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul itu nyaris tak punya harapan ketika dokter memvonis ia menderita leukemia.
Terlebih ketika semua anak dan isteri Sardjono berkumpul di depan dokter, lalu mendengar kabar bahwa penyakitnya tak dapat disembuhkan, pupuslah semua harapan hidupnya.
Kesedihan itu sungguh dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Sebab, mereka telah berusaha mati-matian agar sosok yang mereka cintai itu sembuh, namun ternyata jalan telah buntu. Rasanya kematian telah menghadang di depan mata.
"Dokter hanya berpesan agar kami menuruti semua permintaan ayah," kisah Rustri Yana Watik (37), salah satu putri Sardjono, Jumat, 4 September 2020.
Penderitaan yang dialami Sardjono bermula pada tahun 2017 lalu, ketika tanpa diduga hidung dan mulutnya mengeluarkan darah cukup banyak.
Hal itu membuat seluruh keluarga panik, lalu melarikan Sardjono ke RS Bethesda yang berada di Desa Selang, Gunungkidul. Tiga malam pria yang dulu berprofesi sebagai bengkel itu mengalami muntah darah.
Hasil diagnose dari dokter THT dan internis saat itu menyebutkan bahwa Sardjono mengalami pecah pembuluh darah. Dia pun beberapa hari opname, sebelum akhirnya diperbolehkan pulang.
"Sejak kejadian itu, bapak sering keluar masuk rumah sakit," ujar wanita yang menjadi guru TK itu melanjutkan kisahnya.
Disambangi Beberapa Penyakit
Selain pernah mengalami pecah pembuluh darah, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan, Sardjono juga menderita diabetes. Gula darahnya mencapai 350.
Ia pun menjalani suntik insuline selama satu tahun, untuk mengendalikan gula darahnya agar tetap stabil. Namun Watik, demikian ia sering disapa, beserta keluarganya merasa ada sesuatu yang aneh.
Pasalnya, setiap kali habis suntik insuline, kondisi Sardjono justru drop. Seluruh badannya lemas seolah tanpa daya. Karena itulah, suntik insuline dihentikan, dan sang isteri, Suparni (65) memberinya banyak makan serta minum manis.
"Entahlah, sejak itu bapak gonta ganti penyakit," ujar Watik memendam sedih.
Watik mencontohkan, setelah pecah pembuluh darah, diabetes, ayahnya juga pernah mengalami jantung bengkak, paru-paru terganggu dan ginjal bermasalah.
Di samping pengobatan secara medis, Sardjono juga pernah menjalani terapi pijat selama 34 kali tanpa putus. Terapi itu berlangsung dengan jadwal empat kali dalam satu minggu.
Kondisi Setelah Terapi
Sehabis terapi, ujar Watik, biasanya badan ayahnya terasa enak, kadar gula darah juga normal. Akan tetapi, setelah lepas dari 34 hari terapi, kondisi Sardjono kembali memburuk. Kondisi yang terus menerus muntah mendorongnya kembali opname di rumah sakit.
Anehnya, hasil cek laborat menunjukkan bahwa jantung, ginjal, paru-paru, tensi dan gula darahnya saat itu dalam kondisi normal. Namun saat itu pula kabar buruk itu datang bagai petir di siang bolong.
Dokter mengatakan bahwa kadar sel darah putih Sardjono mencapai 45.000. Jumlah ini menurut Watik yang merujuk ucapan dokter, melebihi jumlah standar normal.
"Dokter bilang, ayah menderita kanker darah atau leukemia," ungkapnya.
Sontak seluruh anggota keluarganya terkejut dan sedih. Bagaimana tidak sedih, karena sampai sejauh ini leukemia adalah salah satu penyakit yang menjadi momok karena sulit disembuhkan.
Namun apa boleh buat, kenyataan telah berada di depan mata, sehingga apapun yang akan terjadi harus dihadapi.
Setelah mendapat pengobatan di rumah sakit, Sardjono pun akhirnya diperbolehkan pulang. Namun baru satu minggu di rumah, kondisinya drop lagi, yang mengharuskan ia kembali opname.
Hasil cek lab kembali membuat keluarga terkejut, karena kadar darah putih melonjak. Dari semula 45.000 saat itu menjadi 47.000. Saat itulah dokter menyarankan agar Sardjono menjalani operasi sumsum tulang belakang.
Satu-satunya rumah sakit yang bisa melakukan operasi sumsum tulang belakang dengan fasilitas BPJS adalah RS Dr Sardjito di Yogyakarta. Namun mengingat antrenya yang sangat lama, dokter menyarankan untuk mengambil jalur non BPJS, karena kebetulan di RS Bethesda Yogyakarta sedang ada keringanan biaya.
"Kami menurut saja. Prinsipnya bapak segera mendapat penanganan yang terbaik," ujar Watik.
Selepas menjalani operasi sumsum tulang belakang, kondisi Sardjono boleh dibilang membaik. Namun entah kenapa, suatu ketika kondisi pria tersebut kembali merosot, hingga memaksa ia masuk rumah sakit lagi.
Obat yang Tak Terjangkau
Saat itulah, demikian cerita Watik, dokter sempat menawarkan obat untuk ayahnya. Harganya mencapai Rp 30 juta. Namun pihak keluarga keberatan karena obat tersebut tidak menjamin kesembuhan ayahnya, dan kondisi keuangan keluarga ibarat sudah habis-habisan.
Opsi kedua, Sardjono bisa mendapatkan infus seharga Rp 3,5 juta per botol. Infus tersebut katanya untuk mensuplai tenaga kepada pasien.
"Saya langsung tanya, apakah infus itu wajib? Dan karena katanya tidak wajib dan tidak menjamin kesembuhan bapak, akhirnya saya tidak ambil," katanya.
Setelah dua opsi dari dokter tersebut gagal dijalani, akhirnya muncul opsi terakhir dari dokter. Dokter menyarankan untuk memberi pasien banyak makan dengan lauk putih telor.
"Opsi ini memang lebih ringan, tapi berat menjalankannya karena bapak tidak mau makan putih telor. Makan yang normal saja susah, apalagi lauknya putih telor," beber Watik.
Pada titik inilah akhirnya dokter mengumpulkan seluruh anak dan isteri Sardjono. Saat itu dengan berat hati dokter mengatakan bahwa penyakit Sardjono tidak dapat disembuhkan.
"Kami hanya dipesan agar selalu menuruti segala permintaan bapak. Kami diminta untuk membuat bapak selalu senang," kata Watik.
Sejak itulah, harapan kesembuhan untuk orang yang mereka cintai telah pupus. Bagaimana mereka mampu membuat orang yang mereka cintai itu senang, sementara hati mereka teriris melihat penderitaannya?
Ibarat pejuang yang kalah perang, dengan hati nelangsa, mereka pun membawa Sardjono pulang ke rumah. Bagaimana pun juga, pesan dokter akan mereka laksanakan. Ayahnya tidak boleh merasa sedih, sebagaimana kesedihan yang sebenarnya mereka simpan dalam-dalam.
Datang Harapan Baru
Di tengah harapan yang telah pupus itulah, datang saudara mereka yang bernama Wahyu, ke rumah. Melihat kondisi Sardjono yang hanya bisa terbaring di atas tempat tidur, Wahyu pun memberikan saran.
"Mbok coba diberi madu Borneo87 punya teman saya, siapa tahu jodoh?" ujar Watik menirukan ucapan Wahyu.
Nunung Joko (kanan), owner madu Borneo87 bersama wisatawan mancanegara yang juga mengonsumsi madu hutan asli Kalimantan itu untuk menjaga stamina.
Di tengah pupusnya harapan untuk Sardjono, Watik dan keluarganya pun langsung menyetujui saran saudaranya tersebut. Dan sejak itulah Sardjono memulai mengonsumsi madu hutan Borneo87.
Bersamaan dengan itu, Watik mulai menyetop obat-obatan yang dibawakan oleh dokter. Madu tersebut, demikian pengakuan Watik, memberikan efek yang luar biasa pada kondisi ayahanya.
Ia menggunakan takaran 3 kali sendok makan malam hari dan dua kali sendok makan di pagi hari. Reaksinya sungguh di luar dugaan Watik dan keluarganya, karena kepala Sardjono menjadi berat, pusing dan keluar keringat dalam jumlah yang banyak.
Namun karena tekad yang sudah bulat, ia pun meneruskan konsumsi madu tersebut tetap dengan takaran tersebut. Setelah habis setengah botol, rasa pusing di kepala Sardjono mulai berkurang.
"Bapak tidak lagi mual dan muntah-muntah. Malamnya ia juga dapat tidur pulas," ujar Watik heran dengan kejadian ajaib itu.
Anehnya lagi, demikian ujar Watik, frekuensi buang air kecil ayahnya sudah jauh berkurang. Jika sebelum mengonsumsi madu Borneo87 ia bisa 10 sampai 20 kali buang air kecil di malam hari. Namun setelah mengonsumsi madu tersebut, ayahnya hanya buang air kecil dua sampai tiga kali saja semalam.
Keajaiban datang Beruntun
"Ini menurut saya seperti keajaiban. Karena buang air besar juga menjadi lancar. Padahal sebelumnya pernah terjadi, dalam seminggu bapak itu nggak bisa BAB," ujar Watik didampingi suaminya.
Keajaiban tersebut bagi keluarga Watik tidak berhenti sampai di situ. Ayahnya yang sebelumnya hanya bisa tidur terlentang di atas dipan, terkadang malah bisa bangun sendiri dan berjalan.
"Saya kadang juga bingung, bapak tiba-tiba tidak ada di dipan. Tahu-tahu sudah di dapur," ujar kakak Watik, Sri Rusmini (47) menimpali.
Membonceng Sepeda Motor
Puncaknya terjadi ketika tanpa diketahui anak isterinya, Sardjono membonceng sepeda motor cucunya untuk membeli soto di Desa Gelung. Semua orang di rumah sudah kalang kabut dibuatnya.
"Sampai di rumah barulah cucunya cerita kalau eyang baru saja makan soto satu mangkok di warung," kisah Watik.
Ketika penulis berkunjung ke rumahnya, Jumat, 4 September 2020 malam, Sardjono sedang tiduran di atas dipan di balik ruang tamu. Penulis ditemui oleh Watik dan suaminya.
Pada saat wawancara hampir selesai, tiba-tiba Sri Rusmini, putrinya sulung yang saat itu duduk di atas tikar di dekat tempat tidur ayahnya berteriak.
"Weh, bapak tangi dhewe, arep nengdi kuwi? (Wah, bapak bangun sendiri, mau ke mana itu (red)?"
Belum sempat Sri Rusmini berdiri untuk menuntun ayahnya, Sardjono telah lebih dulu bangun dan berjalan menuju ruang tamu. Yah, penderita leukemia akut yang telah divonis tak dapat sembuh itu berjalan sendiri tanpa ditopang siapapun ke arah penulis.
"Ya.. ya wis kene melu jagongan (ya.. ya sudah sini ikut ngobrol (red)," ujar Watik, lalu memberikan tempat duduk untuk ayahnya.
Alhasil, penulis pun bisa mengobrol secara langsung dengan Sardjono. Watik pun menyuguhkan segelas teh untuk ayahnya. Di tengah-tengah kami mengobrol, Sardjono pun mengambil tempe keripik di atas toples dan memakannya dengan nikmat.
Ditemani anaknya, Sardjono (tengah) yang telah divonis tak dapat sembuh dari leukemia sedang mengobrol dengan penulis (kanan)
Menurut cerita isterinya, Suparni (65), sejak mengonsumsi madu, suaminya tidak punya pantangan makan atau minum apapun. Termasuk makan tempe keripik atau minum minuman manis.
Wajah Sardjono saat bincang-bincang dengan penulis pun kelihatan bercahaya, dan komunikasinya nyambung dan lancar. Hanya saja, kulitnya terlihat sedikit pucat.
Sembari berbincang-bincang, jari-jari tangan Sardjono sering terlihat menggosok-gosok permukaan kulitnya. Watik mengatakan, memang sejak mengonsumsi madu Borneo87, tinggal satu keluhan itu yang terjadi, yakni rasa gatal.
Namun ia yakin rasa gatal itu akan hilang dengan sendirnya seiring waktu. Apalagi, menurut Watik, rasa gatal tersebut mungkin tak separah penyakit utama yang diderita ayahnya.
Mendapati kenyataan menggembirakan itu, Watik dan keluarganya berharap Sardjono akan tetap sehat dengan hanya mengonsumsi madu hutan tersebut. Ia menunggu hal ajaib apa lagi yang akan terjadi pada ayahanya.
Bukan Keajaiban
Bagi beberapa orang yang mengalami, mendengar atau mengetahui, ini adalah fenomena baru yang menggembirakan dalam hal pengobatan.
Akan tetapi, owner Madu Borneo87, Nunung Joko justru berpendapat lain. Ia mengakui, kesembuhan Sardjono oleh madu hutan tersebut memang merupakan fenomena baru, namun bukan suatu keajaiban. Efek positif dari madu Borneo87 dapat dinalar secara logis.
Kuncinya menurut Nunung, adalah sari-sari makanan yang diisap oleh lebah hutan. Bukan hal ajaib. Madu hutan Borneo87 diperoleh secara alami dari hutan di pelosok Kalimantan, sebuah kawasan yang sangat kaya akan pohon yang berkhasiat untuk pengobatan.
Ribuan jenis tanaman obat menurut Nunung ada di sana. Untuk itu, dia yakin, ribuan jenis nektar pohon yang diisap oleh lebah hutan itu memiliki manfaat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.
"Mungkin salah satu dari nektar itu bisa menyembuhkan penyakit yang diderita Pak Sardjono. Dan lebah hanya sebagai perantara saja, intinya terletak di jenis nektar yang diisap lebah," beber Nunung Joko yang pernah malang melintang di pelosok hutan Kalimantan tersebut.
Justru dengan kesaksian Sardjono tersebut, Nunung Joko merasa yakin, bahwa madu hutan Borneo87 mampu menyembuhkan penyakit lainnya. Jadi bukan hal ajaib jika itu terjadi.
Kini, untuk mendapatkan madu hutan Borneo87 tidak harus datang ke Kalimantan. Madu dapat dipesan dengan mengontak nomor: 082328048189. Secepatnya pesanan akan diantar atau dikirim ke alamat. (*)
Kevin Yo menulis:" Cara menghasilkan uang tambahan tanpa modal sebenarnya sudah ada dari dulu, namun kita juga harus tahu platform mana yang banyak digunakan orang, dan apa saja kelebihannya, kita akan bahas dalam artikel ini ya. Apa saja sih yang bisa kita lakukan?" Pos baru pada SUKSESPRO Cara Menghasilkan Uang Tambahan oleh Kevin Yo Cara menghasilkan uang tambahan tanpa modal sebenarnya sudah ada dari dulu, namun kita juga harus tahu platform mana yang banyak digunakan orang, dan apa saja kelebihannya, kita akan bahas dalam artikel ini ya. Apa saja sih yang bisa k...
Kevin Yo menulis:" Yang muda beraksi lewat usaha adalah sebuah pilihan untuk merubah kehidupan dan tentu saja membawa dampak positif dalam ekonomi dengan mengesampingkan gaya hidup seperti yang dilakukan oleh Nova Ajie Setiyawan. Apa yang dilakukan sangatlah pantas dico" Pos baru pada SUKSESPRO YANG MUDA BERAKSI LEWAT USAHA oleh Kevin Yo Yang muda beraksi lewat usaha adalah sebuah pilihan untuk merubah kehidupan dan tentu saja membawa dampak positif dalam ekonomi dengan mengesampingkan gaya hidup seperti yang dilakukan oleh Nova Ajie Setiyawan. Apa yang dilakukan sangatl...
admin menulis:" Suksespro.com – Presiden Joko Widodo menyebut, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif baik dibandingkan dengan sejumlah negara lain. "Walaupun hanya tumbuh 2,97 persen, tapi kalau dibandingkan negara lain yang telah merilis angka pertum" Pos baru pada SUKSESPRO Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Relatif Baik oleh admin Suksespro.com – Presiden Joko Widodo menyebut, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif baik dibandingkan dengan sejumlah negara lain. "Walaupun hanya tumbuh 2,97 persen, tapi kalau dibandingkan negara lain yang ...
Komentar
Posting Komentar