SUKSESPRO.COM – Bisnis donat kentang. Ya, itulah yang kini dilakukan oleh Bu Made belakangan ini. Bahkan, produknya tersebut kini mulai mendapatkan tempat di hati pelangggannya, termasuk di masa pandemi Covid-19 ini.
Ni Made Widiarti, demikianlah nama lengkap Bu Made, warga Mlati, Sleman, provinsi DIY ini. Dia yang terbiasa dengan kegiatan dari subuh sampai siang atau sore hari, stay at home membuatnya kelimpungan.
Ia seolah mati gaya. Apa yang mau diperbuat selama harus tinggal di rumah sesuai anjuran dari pemerintah? Apalagi, hidup terus berjalan dan membutuhkan makan.
Apalagi, usaha Bu Made sebagai penyedia kebutuhan pokok dapur di beberapa hotel terhenti, sebagai dampak Covid-19. Order terhenti.
"Karena jengah, suatu malam kami diskusi kecil apa yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang dan tidak ada kepastian ini," kata Bu Made kepada Suksespro suatu ketika.
Produk Sama tapi Berbeda
Dalam diskusi kecil itu, muncullah ide untuk membuat donat, yang pernah dilakukannya pada tahun 2008. Namun donat yang dibuat sekarang harus berbeda dari yang lalu.
"Sekarang orang cari makanan yang bisa bertahan untuk beberapa lama tidak akan busuk dan rusak. Kebetulan saya punya fresher menganggur, sehingga muncul ide membuat donat difrizen saja. Jadi kalau tidak habis bisa disimpan lagi buat besok harinya. Karena sudah lama sekali ngga buat donat, saya tes lagi buat beberapa resep dan setelah jadi saya bagikan kepada tetangga dan minta komentar tentang rasanya," kata lulusan SMA tahun 1995 itu.
Esok harinya, Bu Made membuat beberapa donat dengan berbagai varian rasa. "Setelah itu saya posting di medsos dan lumayan ada yang merespon, salah satunya patner saya yang sekarang membuat donut saya semakin banyak dikenal orang," kata Bu Made.
Menurut Bu Made, awalnya temannya itu memesan dua bungkus dan setelah dicicipi dia tertarik untuk ikut memasarkan.
"Dengan senang hati saya iyakan. Dan mulai dari situ donat saya dikenal dari mulut ke mulut atau istilahnya getok tular," ujarnya.
Bisnis donat kentang Frozen Bu Made pun berkembang pesat. Saat ini setiap hari ia memproduksi 2.500 pcs/pak donat dari awalnya hanya 500 pcs lalu berkembang menjadi 1.000 pcs.
"Puji syukur tak terhingga, semoga produk saya selalu bisa diterima di masyarakat dan ke depan ada banyak inovasi yang bisa kami lakukan," kata Bu Made.
Padahal, menurut Bu Made, saat ini ia belum memasarkan lewat GoJek, namun sudah banyak yang menjadi reseler dan cara getok tular, dari mulut ke mulut.
"Dengan begitu, saya juga bisa membantu teman-teman dalam kondisi susah seperti ini dengan ikut memasarkan produk saya," harap Bu Made yang pernah jadi koki di hotel ini.
Diakui, usaha ini bukan hanya sekadar untuk kepuasan diri dan cari keuntungan sendiri, tapi juga untuk sesama.
Semangat Berbagi
"Senang rasanya bisa bantu orang," kata Bu Made yang mengaku anak-anaknya juga jalan-jalan membagikan bingkisan donat untuk orang-orang yang kurang beruntung di jalan.
Warga Mlati, Sleman ini berharap apa yang dilakukannya di tengah krisis akibat wabah virus Corona ini bisa mengispirasi banyak orang. Bahwa dalam kondisi apa pun kita tak boleh dikalahkan oleh keadaan.
Dalam menjalankan bisnis donat kentang Frozen ini, Bu Made mengaku banyak disupport oleh suaminya.
"Dia yang melakukan quality control," kata Bu Made.
Saat ini, ia hanya dibantu anak-anak dalam memproduksi donat dan belum diperbolehkan ada orang luar perumahan yang bekerja di rumahnya. Itu sebagai upaya pencegahan penyebaran virus Corona.
"Sebenarnya kepingin cari tenaga, tapi sekarang belum boleh ada tamu ke rumah," kata Bu Made lagi.
Hal ini juga dilakukan sambil mengajari anak-anak bahwa dalam menjalani kehidupan itu tidak semudah yang dibayangkan.
"Biar nantinya mereka bisa tahan dalam kondisi dan situasi apa pun," kata lulusan SMA tahun 1995 ini.
Made mengaku, keahliannya membuat donat berawal dari tahun 2008-an. Ketika itu ia mulai belajar membuat donut kentang. Selama sebulan lebih ia mencoba membuat resep sendiri tanpa menjiplak dari manapun.
"Saat itu saya masih bekerja sebagai koki di sebuah hotel di Jogja," ujarnya.
Sebelum kerja, dia membuat donat lebih dulu dengan proses yang sangat sederhana yaitu memarut kentang yang sudah direbus. Lalu menguleni dengan cara membanting agar adonan menyatu dan sampai kalis.
Pada saat itu, dirinya tidak buat donut frozen seperti sekarang. Namun membuat yang langsung bisa dimakan, disertai aneka macam toping di atasnya. Hasil produk Bu Made tersebut dititipkan ke koperasi-koperasi, atau warung jajanan subuh.
Berbisnis Sambil Merawat Anak
"Saat itu lumayan bisa membantu penghasilan keluarga dan saya masih bekerja juga di samping usaha donat saya kecil-kecilan itu," katanya.
Dikatakan, sampai pada tahun 2015 ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan mau menekuni usaha sambil merawat anak di rumah.
Ketika dapat uang pesangon, ia langsung membeli mixer untuk mempermudah dalam pembuatan produk. Namun, ketika Gunung Merapi meletus tahun 2016, usaha itu berhenti karena semua pegawainya kembali ke kampung dan ia tak bisa bekerja sendiri.
"Karena usaha berhenti maka mixer saya masukkan ke gudang dan ngga pernah disentuh dan dipakai lagi," kisahnya.
Bu Made pun beralih usaha dengan membuka kantin di sekolah anak dan sampai menjadi penyedia kebutuhan pokok yang diperlukan dapur di beberapa hotel.
Pekerjaannya selama ini memang tak jauh-jauh dari soal urusan dapur.
"Saya menikmati pekerjaan ini karena pesanan dibeli ke pasar, disortir langsung kirim ke hotel yang minta," kata Bu Made.
Namun, setelah musibah yang melanda dunia sekarang ini yaitu Covid-19, pesanan hotel mulai menurun dan parahnya lagi tak ada order sama sekali.
Dari situlah awal ide untuk kembali memproduksi donat kentang Forzen yang bisa tahan lama dan kini mulai berkembang pesat dan sukses. (*)
Komentar
Posting Komentar